HMJ PJJ-PGSD
Universitas Muhammadiyah Malang
HMJ PJJ-PGSD
Universitas Muhammadiyah Malang

Atasi Permasalahan Sampah, LIPI Kembangkan Insinerator Plasma Generasi Terbaru

Author : Administrator | Senin, 23 November 2015 11:15 WIB
Insinerator generasi terbaru ini menyelesaikan permasalahan sampah dengan cepat melalui pembakaran yang tidak menghasilkan asap yang mencemari lingkungan.
Sampah yang memenuhi sebuah kawasan di Jakarta Utara. (Yunaidi/National Geographic Traveler)





















Tim peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil mengembangkan insinerator generasi terbaru yang dilengkapi dengan unit plasma. Insinerator generasi terbaru ini dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan sampah dengan cepat melalui pembakaran yang tidak menghasilkan asap yang mencemari lingkungan.

Kandungan racun pada asap yang dihasilkan dari insinerator dapat dinetralisasi dengan plasma, sehingga asap yang dihasilkan bersih. Secara lengkap, hasil-hasil dari penelitian insinerator plasma tersebut akan dipaparkan dalam Diskusi Publik dan Konferensi Pers bertajuk “LIPI Kembangkan Teknologi Bersih Pengolah Sampah dengan Insinerator Plasma” pada Jumat, 20 November 2015.

Sampah yang kurang terkelola dengan baik merupakan persoalan klasik yang terkadang sulit dalam melakukan penyelesaian pengolahannya. Untuk mengatasi permasalahan pengelolaan sampah ini, Indonesia tentu memerlukan terobosan cara pengelolaan sampah yang baik dan tepat. “Berbagai cara pengelolaan sampah pun telah dilakukan, mulai dari pemilahan, distribusi, composting, recycling hingga pengolahan terpadu menjadi energi. Namun, kenyataannya permasalahan sampah tetap saja menjadi permasalahan serius dan harus segera dicarikan solusi,” kata Dr. Anto Tri Sugiarto, Peneliti Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pengembangan Instrumentasi (BPI) LIPI.

Salah satu solusi pengolahan sampah yang sebenarnya telah lama dikembangkan oleh LIPI adalah insinerator. Insinerator adalah teknologi pengolahan sampah yang melibatkan pembakaran bahan organik. Insinerator sendiri dapat didefinisikan sebagai pengolahan termal. "Insinerator sampah mengubah sampah menjadi abu (ash), gas sisa pembakaran (fuel gas), partikulat dan panas. Gas yang dihasilkan harus dibersihkan dari polutan sebelum dilepas ke lingkungan. Panas yang dihasilkan bisa dimanfaatkan sebagai energi," jelas Anto.

Saat ini, lanjutnya, LIPI telah berhasil mengembangkan insinerator generasi terbaru. Insinerator tersebut memberikan solusi pembakaran yang lebih bersih dan tidak mencemari lingkungan. Maklum saja, insinerator yang selama ini ada kurang mendapat perhatian, bahkan cenderung tidak diinginkan penggunaannya dalam proses pengolahan sampah. Hal ini dikarenakan gas buang hasil pembakaran dari incinerator mengandung gas polutan yang berbahaya bagi kesehatan.

“Insinerator generasi baru LIPI adalah insinerator yang dilengkapi dengan unit plasma untuk mengolah gas buangnya,” tutur Anto. Unit plasma adalah sebuah alat yang menggunakan metode plasma non-thermal yang menguraikan gas buang yang beracun menjadi tidak beracun. Metode plasma sendiri adalah teknologi yang menggunakan proses tumbukan elektron yang dapat mengionisasi dan menguraikan gas beracun seperti NOx. SOx, dioxin dan furan menjadi gas yang aman dan dapat dilepas ke lingkungan.

Menurutnya, insinerator plasma menjadi solusi terbaik dalam mengatasi permasalahan sampah di Indonesia. Selain mengolah sampah dengan cepat dalam jumlah banyak, insinerator plasma ini dapat dibuat dalam skala kecil dan besar. Insinerator plasma skala kecil dapat ditempatkan pada depo sampah kelurahan dan kecamatan, sedangkan untuk skala besar dapat ditempatkan pada tempat pembuangan sementara terpadu (TPST) atau tempat pembuangan akhir (TPA).

Anto berharap, insinerator generasi terbaru LIPI ini menjadi solusi teknologi untuk melengkapi pengolahan akhir dari sampah. Diharapkan pula, hasil penelitian dan pengembangan LIPI tersebut dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat menuju bangsa Indonesia yang sehat dan peduli akan lingkungan.

 

(Lutfi Fauziah)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image